• 16

    Sep

    Maaf, Pindah Rumah

    Seorang teman berbaik hati menyediakan ruangnya untuk saya. Untuk itu, mohon maaf saya pindah rumah ke www.anusapati.com. Selanjutnya, saya akan coba berbagi ide di rumah baru tersebut. Sementara yang lama, dengan berat hati setelah sekian waktu nanti akan di-off-kan. Terimakasih untuk semua. Salam.
  • 9

    Sep

    Komandemen

    Mencari referensi tentang komandemen TKR yang pernah dibentuk ternyata tidak mudah. Bolak-balik memoar bekas tentara dan juga klik kanan kiri di internet, tidak juga ketemu. Di tengah referensi yang minim itu, saya coba merekonstruksi ihwal badan komandemen yang pernah ada. Semoga ada yang bisa meluruskan, bila saya salah. Begitu TKR terbentuk, Markas Besar Tertinggi (MBT) TKR mulanya ingin membagi Sumatera dan Jawa dalam 4 divisi. Satu di Sumatera dan 3 di Jawa. Tapi rencana ini terpaksa ditunda. Euforia revolusi membuat orang berbondong-bondong menjadi tentara dan juga membuat segelintir orang berduyun-duyun memproklamirkan diri sebagai komandan. Kondisi ini membuat organisasi tentara sedemikian gemuk dan liar. Sadar penertiban tergesa-gesa malah bisa memicu konflik senjata, Oerip Sumo
  • 28

    Aug

    Apa yang Kau Bawa Bob?

    Cerita mengenai Robert Earl Freeberg adalah cerita tentang tragedi seorang profesional yang ketiban nasib seperti boneka jailangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Faktanya memang begitu. Bob demikian panggilan Freeberg di Indonesia, datang ke Indonesia dengan modal sebuah pesawat rombeng dan sebongkah kenekatan. Bayangkan, ia hanya punya selembar peta Jawa berukuran setengah jengkal telapak tangan. Ia juga tak punya koneksi luas. Cuma Opsir Udara Petit Muharto, satu-satunya orang Indonesia yang dikenalnya (sebelumnya mereka sempat bertemu di Singapura). Tak heran pesawatnya nyasar. Inginnya mendarat di ibukota Yogyakarta, ternyata landasan yang dipilih adalah pantai selatan Tasikmalaya. Saat itu awal Juni 1947. Tak banyak motivasi Freeberg datang ke negeri yang (saat itu) bel
  • 22

    Aug

    Bambang Supeno

    Kolonel Bambang Supeno mestinya bernama Bambang Ekalaya, sebuah karakter dalam lakon Mahabarata. Pilih tanding dalam memanah hingga melampaui Arjuna, namun tak tak pernah bisa membubung tinggi karena dijegal panutannya sendiri, Durna. Hidup Supeno mirip seperti itu. Ia salah satu satu dari sedikit perwira intelektual di masa awal revolusi, tapi kelebihannya itu tak pernah bisa membawanya dalam puncak karir militer. Sebaliknya, dimana-mana ia terantuk. Berbeda dengan perwira-perwira konseptor yang kebanyakan berpendidikan militer Belanda (TB Simatupang - KMA Bandung, Soewarto - CORO, AH Nasution - KMA Bandung, GPH Djatikusumo - CORO), Supeno (dan juga Achmad Sukendro) merintis jalur kemiliteran dari PETA. Ia mulai berdinas di Jawa Timur dan tak lama setelah pembentukan TKR karena pemikiran
  • 17

    Aug

    Misteri Andaryoko

    Kebetulan kemaren saya mendapat pinjaman buku Mencari Supriyadi karangan sejarawan Sanata Dharma, Baskara T Wardaya yang isinya ternyata hanya transkrip wawancara Baskara dengan Andaryoko yang mengaku dirinya sebagai Supriyadi, pahlawan PETA Blitar - Terus terang, sebenarnya saya berharap buku telaah yang lebih cerdas. - Saya punya kebiasaan membaca cepat, dan demikianlah, sejam kemudian buku itu sudah khatam. Dalam sepertiga isi buku, sudah gugur harapan saya akan hadirnya sebuah terobosan penting dalam penulisan sejarah Indonesia modern. Andaryoko bukanlah Supriyadi. Semula kemunculannya saya pikir bisa menjelaskan beberapa celah yang belum tertulis dalam sejarah kenegaraan kita, tapi ternyata tidak. Justru, ia membuka jalur sejarah baru yang sama sekali berbeda dengan mainstream yang s
  • 11

    Aug

    Supriyadi Muncul

    Sekelumit berita di liputan6.com menarik perhatian saya. Sebuah warta yang menyebutkan Supriyadi, tokoh pemberontakan PETA masih hidup hingga kini. Sang tokoh, yang bersalin nama menjadi Andaryoko Wisnuprabu (89 tahun) hidup di Semarang, malahan membuat buku soal pengakuannya ini. Buku itu diberi judul Kesaksian Supriyadi yang penulisannya dibantu sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T Wardaya. Wow….pikir saya. Antara mengejutkan dan tidak. Tidak karena sebelumnya memang banyak rumor yang membubung bahwa Supriyadi tak ikut tewas saat Jepang memberangus pimpinan PETA di Blitar, dan mengejutkan karena selain momentumnya terkesan tak jelas, juga penulis buku pengakuan Supriyadi tersebut sejarawan senior. Tentu
  • 6

    Aug

    Jubah Diponegoro

    Begitu mendengar nama Diponegoro apa yang Anda pikirkan? Mungkin yang paling pertama muncul di dalam kepala adalah sosok gagah pengendara kuda dengan busana gamis bersorban berwarna serba putih yang melambai-lambai.Atau kalau tidak demikian, gambarnya berupa profile close up sorang pria paruh baya nan bijak yang mengenakan sorban dan jubah putih, dengan keris terselip di sabuk perutnya. Kalau itu yang Anda bayangkan, ya wajar saja. Ratusan atau mungkin ribuan gambar yang telah diproduksi untuk mencitrakan Pangeran Jawa itu, memang demikian adanya. Anda bisa bongkar sendiri buku sejarah SD sisa milik Anda atau mungkin milik anak Anda. Beberapa patung yang dibuat oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah juga merujuk ke deskripsi tersebut. Tak cuma pada gambar dan patung. Layar bergerak ma
  • 4

    Aug

    Konperensi TKR 1945

    Ketika saya mem-posting tulisan berjudul Panglima Besar, tak nyana saya terpaksa harus berutang. Pak Zen - yang baru saja menyatakan pensiun dini dari dunia blogger - minta saya untuk lebih detil mengupas Konperensi TKR 12 November 1945. Walau saya bukan expert, melainkan sekadar penggembira kisah sejarah, saya tak keberatan. Hanya saja saya membayangkan tentu tak bisa terselesaikan dalam waktu yang cepat. Syukurlah tempo yang saya bayangkan lama itu ternyata cepat tertebus. Ketika menyambangi sebuah toko buku, di rak ada biografi tentang Jenderal Sudirman yang ditulis oleh Sardiman. Buku ini terbitan tahun 2000 namun dicetak ulang baru Mei 2008 lalu. Soal Konperensi TKR disinggung cukup banyak meski tidak dalam krono
  • 31

    Jul

    Eksekusi PM Amir

    Ngomong-ngomong polemik antara Profesor Zulhasril Nasir dengan Sabam Siagian soal legalitas eksekusi Tan Malaka , saya jadi tertarik untuk ikut mengedarkan arah pandang. Tapi bukan Tan Malaka yang menjadi tujuan saya. Apalah saya, kalau harus ikut-ikut perdebatan dua gajah. Biarlah saya coba mencermati secara amatir kasus serupa Tan Malaka yang menimpa Bung Amir Sjarifuddin saja. Saya kira, upaya pen-sukabumi-an Amir juga sebuah tragedi kemanusiaan. (Sama kadarnya dengan tragedi pembantaian massa PKI kepada warga Madiun dan juga pembantaian simpatisan PKI oleh TNI). *) Soal eksekusinya silakan lihat artikel Lagu Amir Sejauh ini tak ada kepastian t
  • 27

    Jul

    Polemik Tan Malaka

    Kali ini, saya tidak menulis sendiri. Saya sampirkan polemik tentang Tan Malaka yang tengah terjadi di Harian Kompas, antara dua tokoh yang saling bersahutan. Mereka adalah Zulhasril Nasir (Guru Besar UI) dan Sabam Siagian (Redaktur Senior Jakarta Post/Eks Dubes Australia). Intinya mereka memperdebatkan legalitas eksekusi Tan Malaka. Saya pikir, sayang jika arsip polemik ini nanti lewat termakan zaman, karenanya saya posting di blog ini. Tulisan Pertama oleh Zulhasril Nasir. Kompas 7 Juli 2008. TAN MALAKA DAN KEBANGKITAN NASIONAL Ada satu soal yang selalu mengganjal kebanyakan orang apabila membincangkan Tan Malaka, yakni apakah dia seorang nasionalis atau komunis? Jika pertanyaan itu terjawab, sangatlah relevan menghubungkan pemikiran dan sosok Tan Malaka pada hari- hari peringatan Keba
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post