Makam Pahlawan

12 Feb 2008

Sebuah gelengan kepala bisa membuat perbedaan besar. Itulah yang dilakukan Muhammad Hatta saat maut mulai mengetuk pintu rumahnya. Ia tidak mau dimakamkan di TMP Kalibata sebagai pahlawan karena ia tahu kotak-kotak liang di kompleks tersebut telah tereduksi makna hakikinya. Apalagi, ia tahu Haji Taher, terdakwa koruptor Pertamina belum lama dimakamkan di sana. Lebih baik jasadnya ada di tengah orang-orang biasa di Tanah Kusir.

Bugel - nama panggilan Hoegeng Imam Santoso - juga memilih menggelengkan kepala. Sebagai pemegang Bintang Mahaputra, mantan kapolri ini punya jatah kapling di Kalibata. Namun, patron polisi jujur di Indonesia itu memilih bersemayam jauh di selatan Jakarta, di TPU Giritama, Parung. Bugel sampai perlu berwasiat kepada putra tertuanya untuk menolak permintaan Polri menguburnya di Kalibata.

Saya kira Hatta dan Bugel tahu persis ujung perjalanan hidup adalah kefanaan. Dari tanah kembali ke tanah. Dari tiada kembali ke tiada. Kalau demikian, pasti ada pemikiran berkarat yang membuat mereka memilih sikap membawa prinsip hidupnya hingga ke dalam kubur. Hal-hal yang membuat mereka tak bisa berdamai dengan carut marut kenyataan hidup.

Bagaimanapun saya respek dengan bapak-bapak itu. Toh apa yang (mungkin) mereka khawatirkan ternyata benar terjadi. Saya membaca tulisan dari rekan Heyder Affan ini. Betapa sosok seperti Baharuddin Lopa terpaksa harus berbagi tempat dengan Ibnu Sutowo di sebelahnya. Ah….Hatta benar. Ia tentu miris membayangkan dirinya bertetangga dengan Ferdinand Marcos misalnya…(hehehe)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post