Lagu Amir

14 Feb 2008

Pada mulanya adalah sebuah lagu.

1928. Segera Amir Sjarifuddin akrab dengan kawan barunya, seorang wartawan muda koran Sin Po. Supratman namanya. Pada Supratman, Amir menemukan oase dari riuhnya belantara politik yang mulai ditekuninya. Ada dua hal yang mempertemukan mereka, semangat jurnalistik dan biola. Di kala senggang, Amir dan Pratman biasa menggesek biola bersama.

Tapi untuk urusan lagu, Amir harus menjura pada rekannya. Supratman punya kelebihan. Ia piawai menciptakan melodi. Mungkin tidak orisinil tapi indah di telinga. Kepandaian inilah yang dibawa Amir kepada Muhammad Yamin. Yamin kala itu orang top. Ia ada di barisan depan tokoh kebangsaan Nusantara. Pada Yamin pula Amir menumpang hidup selepas putus kuliah dari Leiden.

Amir memberitahu kebisaan Pratman kepada Yamin. Kebetulan, Yamin sedang mencari komponis untuk membuat lagu persatuan dari apa yang disebutnya tumpah darah Indonesia. Supratman seperti menemukan sekrup karena ia pun mengimpikan hal yang sama setelah membaca tantangan yang ditulis Agus Salim di Harian Fajar Asia, 4 tahun sebelumnya.

Yamin menyodorkan lirik dan Pratman menyempurnakan melodi yang pernah dirintisnya. Jadilah sebuah lagu yang sakral. Lagu itu dinyanyikan lewat gesekan biola Supratman pada rapat pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928 di Kramat Raya 106. Itulah Indonesia Raya.

Amir ada di situ. Di sudut ruangan, ia menyanyi dalam kalbu. Larangan Belanda membuat siapapun yang hadir tak bisa lepas merapal lirik Indonesia Raya. Tapi tak apa, Amir tetap bangga. Pikirnya, suatu saat ia pasti bisa menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang. Dan sejak itu dimulailah jejak politik Amir dalam lembar abu-abu sejarah Indonesia.

Amir meluncur seperti panah yang lepas dari busur. Ia bergabung dengan Soekarno di Partindo. Ia mendampingi Soekarno saat diadili di bandung 1930. Ketika Soekarno dibuang, Amir mendirikan Gerindo dan bergerak di bawah tanah. Berkali-kali ia harus berkencan dengan maut karena menjadi incaran pemerintah Hindia Belanda.

Giliran Jepang menjajah, Amir masih juga melawan. Ia menolak berangkulan tangan dengan Jepang seperti yang dilakukan Soekarno - Hatta. Dengan dana sokongan Belanda, Amir mengorganisir gerakan merongrong Jepang. Saat itu, Amir luar biasa. Ia pernah ditangkap Jepang dan disiksa dengan kaki terikat dan tubuh tergantung di tengah sel, tapi Amir malah tertawa. Sampai-sampai Van Mook pun menjulukinya sebagai orang yang tak mengenal rasa takut.

Saat kemerdekaan ditasbihkan, Amir tidak dilupakan. Walau pun saat itu Amir sedang meringkuk di sel Penjara Lowokwaru, Malang, Hatta menunjuknya menjadi menteri pertahanan. Hatta sadar, ia harus merangkul Amir karena kehadirannya akan memperkuat pemerintah dari cemoohan Belanda.

1948. Situasi sudah berubah cepat. Amir yang pernah menjadi perdana menteri ada di ujung labirin yang dipilihnya sendiri. Putusannya untuk mengikuti tapak kaki Musso mendudukkannya tersudut dalam panggung yang dikuasai Soekarno-Hatta. Amir sempat mencoba meredam panas. Kami tetap bagian Indonesia. Lagu kami masih Indonesia Raya, bendera kami masih Merah Putih. Tapi apa daya layar segera ditutup oleh Hatta.

19 Desember 1948. Di tengah kompleks Pemakaman Desa Lalung, Karanganyar, sekelompok orang berdiri. 11 orang di antaranya tampak kuyu. Seorang di antaranya berpiyama bergaris-garis putih biru dan bercelana hijau. Ia membawa buntalan. Dia lah Amir. Demi menyaksikan tentara-tentara yang membawanya menyuruh penduduk desa menggali lubang, sadarlah Amir waktunya sudah tiba.

Setelah 18 tahun bercumbu, sang maut memintanya lebih. Dan Amir memang tidak hendak kemana-mana. Menghela nafas, Amir berkata “Beri waktu kami bernyanyi sebentar.” Lalu, ia menyanyikan Indonesia bersama dengan kawan-kawan sematinya. Satu yang melegakan, kali ini ia bisa menyanyikannya dengan lantang. Sejurus kemudian, setelah mengucapkan selamat tinggal untuk kaum buruh, maut membawanya pergi dari sepucuk pistol letnan tentara.

Pada akhirnya adalah sebuah lagu.

(tulisan ini bukan naskah sejarah, hanya semata interpretasi atas data historis)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post