Granat Cikini
30 November 1957.
Granat yang dilemparkan Tasrif tak cuma meledakkan halaman depan sekolah Perguruan Cikini di Jl Cikini Raya 76 Jakarta, tapi juga meledakkan amarah Presiden Soekarno. Betapa tidak, hanya beberapa jengkal dari dirinya, ia mesti menyaksikan sembilan anak dan seorang ibu yang tengah hamil merenggang nyawa. Seorang pengawalnya terluka berat dan ia mesti merelakan lengannya tergores kawat berduri saat lari mengamankan diri. Soekarno murka.
Telunjuk segera diedarkan. Mayor Dachyar selaku Komandan Militer Jakarta ketika itu langsung menyodorkan jawaban hanya berselang 3 hari setelah kejadian. Ia menuding percobaan pembunuhan presiden itu buah tangan kelompok teroris yang didesain Kolonel Zulkifli Lubis. Motifnya apalagi kalau bukan perseteruan perwira daerah (baca; PRRI dan Permesta) dan pusat. Zulkifli Lubis dikenal sebagai salah satu dedengkot perwira pro daerah yang berseberangan dengan Nasution.
Ini bukan tuduhan serampangan. Tokoh yang dibidik bukanlah militer ecek-ecek. Zulkifli dikenal sebagai salah satu perwira cerdas - selain Kolonel Bambang Supeno - yang merintis dasar-dasar organisasi intelijen di Indonesia. Jabatan terakhirnya sebelum kabur ke daerah adalah Wakil KSAD. Tak pelak, tuduhan itu membuat Jakarta makin gencar mengganyang PRRI dan Permesta.
Tapi tuduhan itu ternyata asbun. Mendadak, aparat malah menangkap tersangka lain. Mereka adalah Tasrif, Saadun dan Yusuf Ismail. Ketiganya perantauan dari Bima, Nusa Tenggara yang dituding tergabung dalam gerakan DI/TII. Kaitan inilah yang menyebabkan Soekarno tak lagi ragu memberikan tandatangan mengeksekusi Kartosuwirjo, orang yang pernah berbagi tempat dan bertukar pikiran dengannya selama mondok di rumah HOS Tjokroaminoto.
“Aku selalu ingat kepada sembilan anak dan seorang perempuan hamil yang jatuh tersungkur tak bernyawa di dekatku. Oleh karena itu, tahun 1963 aku membubuhkan tanda tangan menghukum mati Kartosuwirjo. Bukan untuk kepuasan, tetapi demi menegakkan keadilan…” (Kompas, 30 November 2007). Soekarno juga memerintahkan eksekusi mati langsung kepada tiga pelaku utama, Tasrif, Saadun dan Yusuf Ismail, begitu vonis hakim turun.
Mudah-mudahan Soekarno tidak salah mengambil keputusan. Karena ternyata deskripsi kebenaran atas tragedi itu tidaklah mutlak. Buktinya berbagai versi motif penggranatan Cikini masih saja terdengar hingga kini. Bali Post yang di tahun 2003 pernah menemui Abdul Latief, salah satu eks DI/TII di Jakarta mendapat pengakuan begini. ”Saya tahu persis. Kala itu, Kasad Zulkifli Lubis sengaja memberikan granat itu kepada kelompok ini. Setelah memilih hari, mereka bergerak dan melemparkan granat tersebut ke arah Bung Karno.”
Tentu klaim ini tak diamini Zulkifli Lubis. Hingga akhir hayatnya ia menuntut pengadilan atas dirinya demi membersihkan namanya dari rumor keterlibatannya dalam penggranatan Cikini. Dan memang, sebetulnya ada yang janggal dengan versi ini. Seluruh pelaku berasal dari Bima, sebuah wilayah yang tak punya riwayat hiruk pikuk dalam momentum makar DI/TII. Berbeda misalnya, jika pelaku dari Sulsel (Kahar Muzakar), Jabar (Kartosuwirjo), Kalsel (Ibnu Hajar) ataupun Aceh (Daud Beureuh).
Versi lain - yang terdengar lebih konyol - justru muncul dari Kolonel Alex Everet Kawilarang, eks pentolan Permesta. Kabar yang sampai ke telinganya (Majalah Tempo Thn II/10/1999), pelaku utama penggranatan memang orang Bima, namun bukan yang telah ditangkap negara. Pelaku asli telah kabur ke Australia. Tasrif cs hanya bagian dari komplotan. Adapun motifnya ternyata jauh dari bara politik tentara apalagi separatisme.
“Ceritanya, sebelum Pemilu 1955, Soekarno pernah datang ke Sumba Besar. Karena tidak ada hotel, dia tinggal di rumah penduduk. Masyarakat Bima itu taat kepada Islam. Suatu malam, Soekarno minta tukang pijit. Karena masyarakat Bima memeluk Islam secara taat, mereka tidak mengerti yang dimaksud Soekarno. Dikirimlah seorang laki-laki pemijat. Nah, Soekarno waktu itu mengucapkan kata-kata yang membuat dendam orang Bima. Di luar itu, katanya, Soekarno sempat pula menggoda wanita di sana. Jadi, kalau ini benar, asal mula semuanya soal wanita.”
Aih, sungguh perspektif yang lain lagi.
About this entry
You’re currently reading “Granat Cikini,” an entry on
- Published:
- 4.24.08 / 6am
- Category:
- Artikel
- Tags:
8 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]