Adu Punggung Politik

5 May 2008

Bahwa politik itu tak mengenal mata, itu bukan sekadar stigma. Bahkan sejak era nenek moyang menciptakan drama Ramayana, sudah terpikirkan membuat lakon Gunawan Wibisana yang harus berhadapan dengan kakaknya sendiri, Rahwana. Itulah sisi tajam politik, kadang garis politik harus melintang vertikal di atas garis hubungan darah. Dan sang zaman mencatatnya hingga masa kini.

Di era pergerakan prakemerdekaan tahun 1920-an, banyak orang terkesima dengan kecerdasan H Agus Salim. Belanda mencatatnya sebagai salah satu pribumi paling brilian saat itu. Tak sekadar pintar, ia juga pesohor agama dan giat di Syarikat Islam (walau akhirnya dipecat). Tapi adik kandung Agus Salim berbeda. Chalid Salim justru memilih komunis sebagai jalan hidupnya. Saat petaka pemberontakan PKI 1926, wartawan Pewarta Deli itu pun terpaksa harus menghabiskan 15 tahun hidupnya sebagai orang buangan di Boven Digoel, Papua.

Maria Ulfah, menteri wanita pertama dalam sejarah Indonesia harus menahan perasaannya manakala mendapati pamannya, Mayor KNIL Suryo Santoso ternyata menolak untuk ikut berdiri di sisi republik. Sang paman, memilih tetap mengabdi untuk kepentingan Belanda. Pamannya yang lain Prof Hussein Djajadiningrat juga memilih sikap serupa dengan Suryo Santoso.

Di Jogja, Sultan Hamengkubuwono IX tidak begitu saja gampang memutuskan menggabungkan diri pada merah putih Soekarno-Hatta. Selain, ia akan berisiko kehilangan kekuasaannya di Jogja, sanak-kadangnya yang terbiasa hidup mewah dalam dekapan Belanda belum tentu bisa menerima. Dan benar saja, salah satu saudara tirinya yang menjadi Kapten KNIL memilih meninggalkan istana dan menyebrang ke Belanda.*)

Dari medan pertempuran di Jawa Tengah, salah satu perwira Siliwangi (yang harus longmarch ke Jateng akibat Perjanjian Renville), Mayor Achmad Wiranatakusumah dengan beruraikan kesal menuliskan kegalauannya atas pilihan politik ayahnya di atas sepucuk surat. Ketika itu, ia baru mendengar ayahnya, Residen Bandung, RAA Wiranatakusumah diangkat oleh Van Mook menjadi Wali Negara Pasundan, sebuah negeri ciptaan Belanda di Jawa.

Itu yang fakta. Yang gosip juga banyak. Melompat ke tahun 1960-an, rumor yang sempat ramai di kalangan bawah tanah, ayah dari salah seorang perwira pembantai kaum komunis ternyata sempat harus menginap di salah satu markas tentara di salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Penyebabnya, sang ayah sempat diidentifikasi sebagai sosok yang terkait BTI. Beruntung sang perwira segera tahu dan langsung membebaskan sang ayah.

Dari semua itu, tentu yang paling dramatis adalah yang dialami Soewondo Parman dan Sakirman. Pada mereka, buih politik betul-betul meremas-remas logika dan hati. Keduanya adalah putra priyayi dari Wonosobo. Parman memilih jalan hidup sebagai tentara, sedangkan Sakirman adalah komunis tulen. Saat terjadi Madiun Affair 1948, konon Sakirman berhasil lolos dari pengganyangan Siliwangi atas bantuan Mayor S Parman, adiknya.

Namun tahun 1965, laga sudah menjadi sedemikian liar. Titian politik sudah menjadi jeram mematikan. Tak ada lagi siapa bisa menolong siapa. Mayjen Parman terenggut darah dan jiwanya. Dan Sakirman, (mungkin) tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi harus berenang di kolam pesakitan dengan stempel di dahinya sebagai pengkhianat negara yang tega menggadai nyawa saudaranya. Sakirman terpaksa (dipaksa?) raib selamanya dari muka bumi tanpa ketahuan rimbanya.

Menengok jauh ke belakang masih ada Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten yang harus menggigit bibir karena bertempur dengan anak kandungnya sendiri, Sultan Haji. Saya pikir masih banyak lakon-lakon serupa yang terjadi. Mungkin Anda bisa melengkapinya, tidak untuk maksud apa-apa, sekadar mengingatkan itulah humanisme kehidupan, walau dari sisi terpahit sekalipun.

*) Sejujurnya datanya masih sumir. Perlu pendalaman.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post