Heroisme Tanda Kutip

15 May 2008

Epos perjuangan selalu saja memunculkan banyak episode yang kedengarannya heroik. Palagan kegagahan Gusti Ngurah Rai bersama 107 anak buahnya di Bali, pengorbanan Yos Sudarso di Laut Aru, ke Wolter Monginsidi menatap regu tembak Belanda, kenekatan Mohammad Toha membumihanguskan arsenal NICA di Bandung, dan banyak kejadian lainnya. Tapi apakah sejarah sudah mencatatnya dengan benar?

Membolak-balik beberapa tulisan dan statemen, rasanya peristiwa-peristiwa nan heroik itu, beberapa, masih memunculkan celah-celah untuk dikritisi. Bukan untuk maksud menggugat, namun sekadar memberikan alternatif, bahwa ada perspektif berbeda dari para pelaku sejarah terhadap insiden-insiden tersebut, yang berbeda dari cerita mainstream. Mari melihat beberapa diantaranya.

PERTEMPURAN LAUT ARU. Sejak jaman SD, fragmen yang terekam di otak atas episode itu adalah pengorbanan Yos Sudarso yang gagah berani mengorbankan kapal dan dirinya untuk menyelamatkan KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau. Sudarso terpaksa melakukannya karena pertempuran tak seimbang. Persenjataan para KRI Macan itu benar-benar ompong dibandingkan kapal fregat Belanda. Tak ada satupun yang dilengkapi terpedo. Karenanya ia memilih menjadi martir. Sebelum nafasnya terkubur laut, ia sempat berkata “Kobarkan semangat pertempuran.”

Tapi yang dilihat Soedomo, nampaknya tidak persis seperti itu. Dalam sesi wawancara dengan Metro TV, beberapa waktu lalu, ia menyalahkan Yos Sudarso. Keberadaannya sebagai Pati di armada yang dipimpinnya ketika itu, justru mengacaukan rantai komando. Dan lagi, tenggelamnya KRI Macan Tutul bukan diniatkan sebagai tindakan heroik. Namun langkah darurat karena memang tidak ada opsi lainnya.

Jadi, saat kondisi kritis dan sadar persenjataan musuh jauh lebih hebat, Laksamana Yos Sudarso langsung mengambil alih komando dan memerintahkan armada balik kanan, menyelamatkan diri. Sial bagi Sudarso, KRI Macan Tutul yang ditumpanginya dodol. Saat putar haluan, kemudi malah rusak dan kapal justru mengarah ke armada musuh. Tahu muskil untuk bisa lolos, Sudarso memilih mengorbankan diri. Cerita mengenai ini, bisa Anda lihat disini.

PEMBERONTAKAN PETA BLITAR. Yang umum dikenal, inilah aksi perlawanan bersenjata pertama pribumi-pribumi didikan Jepang terhadap tuannya sendiri. Batalyon-batalyon PETA mendadak menyerbu tangsi-tangsi Jepang di Blitar yang selama ini melatih mereka. Supriyadi dinobatkan sebagai lakon dalam episode ini. Menjadikan dirinya martir atas pemberontakan pribumi yang gagal tersebut.

Tapi ternyata tak semuanya menempatkannya sebagai pahlawan. Beberapa eks rekannya di PETA, menghujatnya sebagai pengkhianat. Pasalnya, begitu pemberontakan gagal dan Jepang mengultimatum pimpinan pemberontak untuk menyerah jika tak ingin semua tentara PETA dihukum, ia malah lari lintang pukang. Justru yang secara gentle datang - demi menyelamatkan anak buahnya - adalah Shudanco Muradi. Ia datang mengantar kepalanya untuk dipenggal.

Supriyadi? Tak jelas rimbanya. Konon, ia tertangkap dan dibedil Jepang di Gunung Wilis. Kabar lain, ia kabur ke Banten dan tewas akibat disentri. Warta lain lagi menyebut ia lari dan memilih bunuh diri dengan terjun di Kawah Gunung Bromo. Ada juga yang percaya, ia tetap hidup sampai usia tua, namun tak pernah membuka diri karena malu atas sikapnya meninggalkan anak buah di Blitar. Apapun, bagi beberapa orang yang mengenal dirinya, Supriyadi bukanlah pahlawan.

PERANG PADERI. Palagan pertempuran di Sumatera Barat ini menendang nama Tuanku Imam Bonjol sebagai tokoh terdepan masyarakat Pagaruyung dalam berjuang melawan Pemerintah Hindia Belanda. Namanya mashur sebagai pahlawan sekaligus mubalig. Ia suluh sekaligus genderang perang orang Minang melawan kebatilan dan penjajahan.

Namun sebuah buku yang terbit beberapa waktu lalu, mengkritisi imej tersebut. Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) karya Mangara Onggang Parlindungan menampakan sisi lain kaum Paderi. Tentara Paderi yang berpaham Wahabi, bertindak kejam dan brutal. Bukan saja terhadap marsose tapi juga kepada kaum sendiri, kaum Adat. Merekalah yang membantai keluarga Kerajaan Pagaruyung. Sikap mereka jika dipersamakan masa kini, sama dengan teror Al-Qaeda.

Mungkin di luar cerita di atas masih ada kisah-kisah heroik bertanda kutip lagi. Saya belum sempat mengais-ngaisnya untuk bisa saya tuliskan kembali. Bagi saya sendiri, pahlawan tak harus datang dari medan perang. Setiap orang bisa menjadi pahlawan dalam lakon hidupnya masing-masing. Itu masalah pilihan, jadi pahlawan atau pecundang. Toh, biar sudah memilih sekalipun, pandangan orang tak selalu seragam.


TAGS Supriyadi Yos Sudarso Heroisme


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post