Who Wants to be the First President? (1)

21 May 2008

Masa pergerakan nasional memakzulkan begitu banyak nama pemimpin pergerakan. Sederet tokoh bergantian memberikan warna ke arah mana kebangsaan nusantara akan bermuara. Dari perspektif yang berbeda, disadari atau tidak, masa-masa itu sesungguhnya masa persemaian para calon pemimpin bangsa. Siapa yang akan menjadi pemimpin utama di garis depan bila kemerdekaan yang dicita-citakan bener-benar bukan impian.

Sejarah memang memberikan jawaban pertanyaan di atas. Bahwa Soekarno didampingi Hatta lah yang dicari para pemuda progresif untuk memproklamirkan Indonesia dan akhirnya menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Tapi saya tak akan bicara soal itu, saya lebih tertarik pada prosesnya.

Ada sederet nama yang menurut saya terlibat atau pernah terlibat dalam ‘perlombaan’ tersebut, andai bisa disebut perlombaan. Karena tulisan kali ini cukup panjang, untuk mengurangi penat membaca, akan saya sajikan secara berseri saja. Satu posting untuk setiap tokoh. Dan saya memulainya dengan Tan Malaka.

Tan Malaka. Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka adalah pelari yang memulai start pertama. 1925, Saat Soekarno baru mulai membuka buku Das Kapital, Tan sudah punya konsep tentang kemerdekaan nusantara. Ia menyebutnya Republik Indonesia (Buku Menuju Republik Indonesia). Lelaki kelahiran 1894 di Pandan Gadang itu jelas berbeda dengan pemimpin pergerakan sebelumnya, seperti Soetomo ataupun Tjokroaminoto. Tan tak sekadar menengadahkan tangan politis etis, tapi ia menuntut kemerdekaan!

Intelektualitas Tan Malaka dibangun justru di Negeri Belanda sebagai calon guru. Usai pendidikan, bukannya tekun mengajar, alam pikiran Tan yang sudah bersentuhan dengan sosialisme dan marxisme membuatnya berontak dan memilih pensiun menjadi guru. 1921, Tan Malaka pergi ke Semarang dan terpilih menjadi salah satu Pimpinan PKI. Baru setahun, ia dibuang Belanda ke Moskow. Disanalah nama makin berbinar. Dialah wakil komunis internasional (komintern) di Asia.

Penolakannya terhadap rencana Pemberontakan PKI 1926 berbuntut panjang. Komintern memecatnya, di sisi lain Pemerintah Hindia Belanda justru memburunya.. Praktis, hidup Tan Malaka lebih banyak berpindah dari satu negara ke negara lain. 1927, ia sempat mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI), namun gagal saat mencoba membuat jaringan di tanah air. Selepas itu, kegagalan itu rekam jejak Tan Malaka menjadi samar.

Belakangan terungkap, ternyata secara diam-diam Tan Malaka kembali keHindia Belanda, namun ia memilih menyembunyikan romannya dari wajah politik. Tan memilih membenamkan dirinya terus dalam pelarian dan kehidupan apolitis di pelosok Banten. Ia mendaftar sebagai mandor tambang di sana. Tan Malaka praktis tak lagi menggabungkan diri dalam kumparan politik elit pergerakan nasional, baik di jaman akhir Kolonial Belanda ataupun Jepang.

Begitu gegap proklamasi makin dekat, Tan Malaka ternyata berubah pikir. Ia memutuskan menempatkan dirinya dalam hiruk pikuk politik Indonesia. 9 Agustus 1945, ia menemui Ahmad Subardjo, satu-satunya kenalan yang menurutnya bisa ia percayai. Sayang, nama besarnya hanya tinggal gaung. Orang banyak takzim pada idenya, tapi tak cukup kenal siapa dirinya. Dan lagi, Tan Malaka kelewat hati-hati. (Ia selalu memakai nama samaran sampai 9 September 1945).

Segera saja, hasilnya nampak jelas. Tan Malaka gagal mengambil tempat di muka. Ini hal yang lantas disesali Tan Malaka sebagaimana ditulis pada otobiografinya. “Rupanya sejarah Proklamasi 17 Agustus idak mengijinkanku untuk ambil bagian secara fisik, hanya secara spritual. Aku sangat menyesalkan hal itu. Tetapi sejarah tidak peduli dengan sesal seorang manusia atau sesal satu kelas manusia.”

Tapi Tan Malaka bukan orang yang gampang menyerah. Datuk tua itu bergerilya mengokohkan posisi politiknya. Pada Sjahrir, ia datang. Ditawarkannya skema kongsi, Tan Malaka sebagai presiden dan Sjahrir (kelak) sebagai perdana menteri. Saat itu, Tan Malaka sudah punya modal. Ia menggenggam testamen yang ditandatangani Soekarno-Hatta bahwa ialah ahli waris kepemimpinan nasional apabila Soekarno - Hatta sampai ditangkap, apalagi gugur.*)

Sjahrir ketika itu menggelengkan kepala. Ia sadar namanya apalagi Tan Malaka tak cukup menjual. Bung Ketjil malah menyuruh Tan Malaka keliling Jawa terlebih dulu untuk mengetes popularitasnya dan membandingkannya dengan nama besar Soekarno. Dan memang Sjahrir benar. Tan Malaka yang sempat keliling Jawa mendapati massa hanya mengenal nama Soekarno, bukan dirinya.

Namun lagi-lagi, Tan tak mau menyerah. Setelah sempat terantuk dalam manuver 3 Juli 1946, Tan Malaka mendapati dirinya dalam momentum yang tepat. Agresi Militer II 1948 membuatSoekarno-Hatta tertangkap. Dalam keyakinannya, inilah saatnya memanfaatkan Testamen Politik yang masih digenggamnya. Tan Malaka pun memproklamirkan beralihnya kepemimpinan nasional Soekarno-Hatta ke tangannya di Kediri.

Tapi apa mau di kata, situasi saat itu begitu crowded. Tak ada yang hirau. Satu-satunya yang peduli justru tentara, itupun kepedulian yang fatal. Tentara lokal Jawa Timur yang tak tahu testamen itu - dan mungkin tak mau tahu - menilai tindakannya itu malah menambah runyam hiruk pikuk politik. Tan Malaka dikejar sampai diubun-ubun hingga pelatuk pistol Letnan Soekotjo akhirnya mengakhiri hidupnya di Selopanggung. Perjalanan orang besar itu usai sudah.

*) Testamen ini hanya diketahui segelintir orang. Antara lain, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri, Ahmad Subardjo dan Sayuti Melik. Meski namanya tercantum sebagai salah satu ahli waris dalam testamen tersebut, Sjahrir dan Wongsonegoro malah tak tahu menahu. Beberapa tahun kemudian saat negara stabil, ketika salinan testamen itu diberikan kembali ke Soekarno, presiden langsung menyobek sendiri di depan publik.


TAGS soekarno Tan Malaka Presiden Pertama


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post