Trimurti & Pengibar Merah Putih

22 May 2008

Pengibaran perdana merah putih

Berpulangnya SK Trimurti memaksa saya untuk menyempilkan posting ini di antara seri Who Wants to be the First President? yang tengah saya buat. Bukan untuk alasan sumbangsihnya untuk bangsa ini - yang saya percaya pastilah berkali lipat dibandingkan kebanyakan dari kita - tapi karena selembar foto. Ya, kepulangannya mengingatkan saya pada foto pengibaran merah putih yang pertama kalinya di zaman Indonesia Merdeka.

Foto yang diambil oleh Soemarto Frans Mendoer, sekitar 63 tahun lalu itu menampilkan adegan penaikan bendera merah putih. Aslinya, momen itu dihadiri oleh ratusan orang, namun mungkin karena keterbatasan ruang dan pertimbangan angle, foto Mendoer hanya menampilkan 6 figur utama. Dua proklamator, dua perempuan yang membelakangi kamera dan dua pengerek bendera.

Nah, yang menjadi problem adalah, identitas orang-orang dalam foto tersebut - terutama dua pengerek bendera - ternyata belum semuanya jelas hingga saat ini. Yang sudah bisa dipastikan barulah Soekarno dan Hatta. Sementara dua perempuan yang membelakangi kamera kemungkinan adalah Ny Fatmawati (yang berkerudung) dan SK Trimurti (tidak berkerudung) sebagaimana ditulis Kompas, 10 September 2007, saat menjenguk SK Trimurti.

Lalu siapa yang mengerek bendera? Di zaman saya sekolah disebutkan ada tiga muda mudi yang menaikkan bendera. Mereka adalah Latief Hendraningrat, Suhud dan SK Trimurti. Untuk yang SK Trimurti kemungkinan salah. Karena ternyata SK Trimurti mengaku telah menolak saat diminta ambil bagian menaikkan bendera sebagai representasi andil kaum perempuan. “Lebih baik seorang prajurit,” katanya.

Tapi benarkah yang dua lagi itu adalah Latief dan Suhud? Belakangan pengakuan Ilyas Karim memberikan arti yang berbeda. Ia mengaku dialah sosok lelaki bercelana pendek yang ada persis di tengah foto tersebut. Ia bertugas memegangi bendera atas perintah komandannya, Latief Hendraningrat. Pasangannya yang mengerek bendera dan berpakaian ala tentara pun bukan Latief, tapi Shudanco Singgih.*)

Ilyas, sesuai pengakuannya, saat itu baru berusia 17 tahun. Ia terbilang anggota paling kecil dalam Angkatan Muda Islam (AMI) pimpinan Latief. Sebelumnya, ia memang pernah menjadi petugas pengerek bendera saat bersekolah tarbiyah di Banten. Ilyas setelah proklamasi akhirnya menjadi tentara dan bertugas di Siliwangi. Ia pensiun sebagai letnan kolonel. Sampai tahun lalu, ia masih hidup dan menjalani masa tua dengan rumah menumpang lahan PJKA di Manggarai.

Kontroversi ini mungkin belum selesai di situ. Jika foto Mendoer diperhatikan seksama, Ilyas ataupun Suhud (?) terlihat hanya memegang salah satu ujung bendera. Sementara di sisi yang lain - dimana bendera nampak tegang bukan melambai - seperti ada tangan yang memegang ujung satunya lagi. Adapun pemilik tangan tak terlihat. Tangan SK Trimurti kah itu? Atau tangan orang lain lagi?

Hmm, sayang kita saya terlupa menanyakannya pada SK Trimurti. (Atau adakah yang sudah tahu kebenarannya?) Selamat jalan pejuang.

*) Pengakuan ini bisa gampang Anda dapatkan dengan googling keyword Ilyas Karim Bendera


TAGS SK Trimurti Sang Saka Ilyas Karim


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post