Who Wants to be the First President? (3)

3 Jun 2008

Amir Sjarifuddin. Dalam literatur, sebenarnya saya tidak mendapati pernyataan atau sikap Amir Sjarifuddin yang mengindikasikan dirinya ingin menjadi presiden negeri ini. Namun analisa rekan-rekannya, antara lain Ali Sastroamijoyo dalam biografinya, yakin betul pembelotan Amir ke kubu PKI dan Musso di pertengahan tahun 1948 lantaran ambisinya menjadi pucuk pimpinan Indonesia. Sebuah ambisi yang naasnya harus ditebus dengan jiwanya sendiri.

Padahal tanpa ambisi pribadi pun, sebetulnya Amir Sjarifuddin punya kapasitas untuk menjadi presiden. Syahdan - sebagaimana dituturkan Soemarsono (tokoh Madiun Affairs) dalam Negara Madiun - para pemuda progresif di Jakarta begitu mendengar berita kekalahan Jepang atas Sekutu, segera memilah-milah sosok untuk mereka usung sebagai pemimpin kemerdekaan. Soekarno - Hatta ternyata bukanlah pilihan pertama.

List nomer 1 pilihan pemuda adalah Amir Sjarifuddin. Kaum muda terpesona dengan kegigihan dan sikap Amir yang konsisten menentang penjajah secara terbuka. Zaman Hindia Belanda, ia pernah masuk bui, demikian juga di jaman Jepang. Reputasinya diakui, hingga Van Mook pun pernah memujinya sebagai orang paling berani saat itu. (Ada legenda, dimana Amir disebut hanya tertawa-tawa saat diinterogasi Kempetai dengan kaki tergantung di atas).

Sikap ini berbeda dengan Soekarno-Hatta yang malah berkolaborasi dengan Jepang di PUTERA dan BPUPKI. Dan juga lebih tegas dari Sutan Syahrir yang sebatas menolak bekerjasama secara terbuka dengan Jepang, namun ternyata diam-diam setuju bertindak sebagai guru dengan mengajar kaum muda pribumi pada sekolah yang didirikan oleh Kaigun (Angkatan Laut Jepang).

Sialnya, Amir ternyata tak gampang ditemukan. Sebetulnya, para pemuda tahu ia sejak 2 tahun lalu berada dalam tahanan Jepang, tapi penjara yang mana, tidak ada yang tahu persis. (Belakangan terungkap, saat proklamasi 1945, Amir berada di LP Lowokwaru Malang. Ketika kabinet pertama dibentuk oleh PM Sjahrir pun dan Amir ditunjuk sebagai menpen, Amir masih dibui sampai akhirnya dibebaskan 6 bulan kemudian). Akhirnya, nama Amir terpaksa diabaikan.

Pilihan selanjutnya adalah Sjahrir, namun Bung Kecil menolak permintaan pemuda memimpin kemerdekaan (mengenai alasannya dalam serial tersendiri). Akhirnya, tak ada pilihan lain, para pemuda pun berpaling pada Soekarno - Hatta. Selanjutnya sejarah-lah yang berbicara. Atas nama reputasinya juga, Soekarno-Hatta memberikan kesempatan pada Amir Sjarifuddin untuk ikut mengatur pemerintahan, bahkan menjadi perdana menteri.

Berikutnya menyusul kecaman terhadap Perjanjian Renville, tanpa alasan yang jelas (kecuali pengakuan Amir bahwa ia telah menjadi anggota PKI Ilegal sejak tahun 1935), Amir mendadak berubah haluan. Tindakan Soemarsono melucuti tentara di Madiun telah menggiring Soekarno-Hatta menuduh Musso (dan juga Amir) ingin mendirikan pemerintahan tandingan. Dan ujungnya adalah tragedi.

19 Desember 1948 hampir tengah malam, Amir Sjarifuddin, anak Jaksa Soripada yang dikenal pemeluk Kristiani yang taat - walau sebelumnya terlahir sebagai Muslim - dieksekusi polisi militer di Ngaliyan, Karanganyar. Ia ditembak bersama 10 rekan satu haluan politiknya. Sesaat sebelum ditembak, Amir bersama rekan-rekannya menyanyikan lagu Internasionale dan Indonesia Raya. Sebuah lagu milik negeri yang ia perjuangkan sejak 1928.


TAGS Amir Sjarifuddin Wikana Presiden RI


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post