Panglima Besar

15 Jul 2008

Gile bener. Sebulan ini saya bengep digebuki berbagai macam pekerjaan. Akibatnya, rutinitas mengasah otak untuk sekadar mengisi arsip blog ini terlewatkan. Padahal cukup banyak yang ingin saya tulis. Namun di tengah menit yang sempit itu, saya coba menyempatkan diri sekadar membaca blog-blog rekan lainnya. Dan saya menemukan yang menarik pada artikel milik rekan Carl Von.

Rekan kita yang satu ini mencoba menjawab mengapa Sudirman bisa terpilih sebagai panglima besar TKR pada 12 November 1945. Ini menarik. Karena tulis Carl Von, Sudirman hanyalah seorang Shudanco (kepala peleton) PETA - versi lain yang lebih saya percayai Daidanco (komandan batalyon). Banyak perwira lain yang jauh lebih senior daripada Sudirman, termasuk perwira tua dari KNIL, Mayor Oerip Sumohardjo.

Jawaban Carl Von adalah Sudirman terpilih karena popularitasnya terangkat menyusul kesuksesannya mengkomandani Palagan Ambarawa melawan Sekutu. Ini bukan laga sembarangan. Inilah satu-satunya pertempuran besar intergral yang pernah dijalani TNI di masa revolusi. Pertempuran lain sukar dibandingkan karena lebih banyak bersifat sporadis atau tak terorganisir sesuai dengan tipikalnya sebagai perang gerilya.

Menariknya, menurut Carl Von, Palagan Ambarawa bukanlah pertempuran alamiah tapi by design. Ada peran Tan Malaka di situ. Tan Malaka meminta Sudirman mengejar Sekutu di Ambarawa sebagai bagian strategi pemenangan Sudirman dalam Konperensi tentara di Jogja yang akan memilih panglima besar. Sudirman menjadi konco Tan Malaka karena ia simpatisan tokoh yang pernah menjadi pentolan PKI tersebut.

Sebetulnya klaim Carl Von masuk akal juga. Sudirman - walau tak pernah diakui secara resmi oleh intitusi militer - memang memiliki kedekatan dengan Tan Malaka. Saat Tan Malaka menggalang Persatuan Perjuangan, Sudirman memilih berada di belakangnya, melintasi arus yang dibangun Sjahrir dan Hatta. Demikian pula saat Tan Malaka ditangkap akibat Kup Juli 1946. Konon, Sudirmanlah tokoh di balik pembebasannya.

Jadi hipotesis tersebut sangatlah menarik. Sampai saya tersadarkan oleh kalkulasi waktu yang tidak pas. Konperensi Tentara memilih pangsar diadakan 8 November 1945 (versi lain 2 November 45), sementara Palagan Ambarawa justru terjadi setelah itu, yakni 12-15 Desember 1945. Artinya, saat Palagan Ambarawa pecah, Sudirman sudah menjadi pangsar meskipun belum resmi dilantik oleh Presiden Soekarno.

Lalu, apa jawaban yang paling tepat untuk alasan pemilihan Sudirman sebagai pangsar? Sayang sekali kitasejauh ini hanya bersandar pada satu referensi yakni tulisan AH Nasution. Dalam “Tjatatan-Tjatatan Sekitar politik Militer Tentara,” Nasution bertutur terpilihnya Sudirman tak lepas dari penyelenggaraan Konperensi TKR yang tak menguntungkan bagi para komandan di luar Jawa Tengah.

Pada saat konperensi itu digelar, para komandan divisi di Jawa Timur sibuk berperang dengan Sekutu di Surabaya. Sementara, para komandan di Jawa Barat, setengahnya absen. Dari luar Jawa pun, Sumatera misalnya, hanya 1 komandan divisi dari 6 yang ada, yang ikut konperensi. Akibatnya, calon pun menjadi terbatas. Dalam kondisi tersebut, kemungkinan Sudirman naik pamor karena reputasi yang dijalinnya dalam masa penyerahan Jepang.

Sebagai Komandan Divisi V Banyumas, tercatat hanya di wilayah Sudirman lah, terjadi penyerahan senjata tentara Jepang kepada tentara republik yang tidka menimbulkan pertumpahan darah sama sekali. Hal ini dipandang sebagai bukti ketegasan sikap Sudirman. Belum lagi, faktor sentimen korps juga mempengaruhi. Mayoritas perwira TKR saat itu adalah eks PETA - sama seperti Sudirman. Adapun eks perwira KNIL hanyalah minoritas.

Hmm…saya pribadi sungguh ingin mendengar versi cerita lain, jika ada.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post