Prasasti Kesederhanaan

25 Jul 2008

Sekitar setengah abad lalu, kita tak perlu malu jadi orang Indonesia. Lembaran masa silam Indonesia sebelum masa Demokrasi Terpimpin menorehkan catatan yang membanggakan. Birokrasi dan politikus diisi oleh orang-orang besar dengan etika dan kehormatan yang tinggi.

Perdana Menteri Wilopo dikenal sangat bersahaja. Bersama Menkeu Soemitro Djojohadikusumo, atas nama penghematan uang negara, ia melarang rapat kabinet menyediakan makanan ringan. Sebagai gantinya, setiap menteri yang ingin <I>ngemil</I> harus membawa dan membayar sendiri makanannya. Dalam kehidupan pribadi pun demikian. Istrinya kerap kali belanja ke pasar hanya mempergunakan becak.

Bung Hatta paling fasih menerapkan kesederhanaan dalam dirinya. Sesaat setelah ia lengser, Sekretaris Kabinet Maria Ulfah menyodorkan uang Rp 6 juta. Ini adalah dana nonbudgeter yang mestinya untuk operasional dirinya selama menjadi wapres. Tapi si bung kecil enggan menerimanya, ia mengembalikannya ke negara. Ada lagi cerita terkenal tentang ‘kasih tak sampai’ nya untuk sebuah sepatu merek Bally, yang tak mampu dibelinya sampai akhir hayat.

KH Agus Salim punya tempat khusus dalam buku harian Prof Schermherhorn. Profesor londo itu mengagumi kecendekiawanan The Grand Old Man, kemampuannya berbahasa dan kedalaman religiusitasnya. “Hanya satu kelemahan dia, selama hidupnya ia selalu saja melarat dan miskin.” Dan memang, sampai akhir hidupnya, Salim hanya punya rumah sederhana yang kecil di Jl Agus Salim sekarang.

Jusuf Kalla mengenang PM Mohammad Natsir sebagai negarawan sederhana dengan tambalan kain di jasnya. Faktanya, memanglah demikian. Dengan nama besarnya yang mendunia, Natsir tetaplah sosok sederhana. Rumahnya di Jl Jawa 22, kecil dibanding jumlah keluarganya yang besar. Suatu ketika, seorang pengusaha besar ikhlas memberinya sebuah mobil mewah. Dan Natsir langsung menampiknya.

Kilauan permata tak menyilaukan mata seorang AE Kawilarang. Saat anak buahnya menemukan timbunan emas dan berlian rampasan Jepang di Pondok Gede, instingnya segera bicara. Harta itu harus diserahkan pada pemerintah. Jelas bukan orang sembarangan, yang dengan enteng bisa melepaskan emas 7 kg dan berlian 4 kg, begitu saja dari tangannya. Tahun 1972, sebuah majalah menulis ulang kisah itu dan menaksir harta yang dulu diserahkan Kawilarang bernilai Rp 6 M.

Mohon maaf, saya memang hanya ingin sekadar beromantisme saja…. anggaplah sebuah igauan. Karena kita tahu bersama, cerita indah itu kini cuma menyisakan sebuah prasasti.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post