Eksekusi PM Amir

31 Jul 2008

Ngomong-ngomong polemik antara Profesor Zulhasril Nasir dengan Sabam Siagian soal legalitas eksekusi Tan Malaka , saya jadi tertarik untuk ikut mengedarkan arah pandang. Tapi bukan Tan Malaka yang menjadi tujuan saya. Apalah saya, kalau harus ikut-ikut perdebatan dua gajah. Biarlah saya coba mencermati secara amatir kasus serupa Tan Malaka yang menimpa Bung Amir Sjarifuddin saja. Saya kira, upaya pen-sukabumi-an Amir juga sebuah tragedi kemanusiaan. (Sama kadarnya dengan tragedi pembantaian massa PKI kepada warga Madiun dan juga pembantaian simpatisan PKI oleh TNI).

*) Soal eksekusinya silakan lihat artikel Lagu Amir

Sejauh ini tak ada kepastian tentang siapa yang bertanggung jawab atas dihukum matinya mantan PM Amir Sjarifuddin. Keterangan buku-buku sejarah hanya menyebutkan, Amir dibunuh atas dasar hukum darurat militer atas perintah Gubernur Militer Solo, Kolonel Gatot Subroto. Gatot memerintahkan hukuman mati karena tak rela para pelaku Madiun Affairs 1948 bebas berlenggang kangkung menyusul aksi Serbuan Belanda (Agresi II) pada pagi harinya.

Kalangan kiri, umumnya tak percaya cerita ini. Alasannya amat logis. Amir Sjarifuddin adalah mantan perdana menteri. Bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir, ia merupakan 4 serangkai yang menjadi pilar tegaknya pemerintahan Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Tak mungkin, orang sekaliber itu dengan gampang bisa diputuskan nasibnya oleh hanya Kepala CPM (Selain Gub Militer Solo, Gatot juga kepala CPM TNI).

Tudingan akhirnya diarahkan ke Hatta. Ketum CC PKI, DN Aidit yang mengarahkan telunjuknya secara gamblang. 11 Februari 1957, saat berpidato di DPR membalas pidato anggota DPR Udin Sjamsudin (Masyumi) soal Madiun 1948, Aidit jelas menuduh Hatta bertanggung jawab atas penembakan Amir. “Tetapi orang-orang ini pada bungkam semua, ketika Amir Sjarifuddin dengan tanpa proses ditembus peluru atas perintah Hatta. ……” (Ironisnya, 8 tahun kemudian, Aidit mengalami nasib yang sama dengan Amir).

Kalangan akar rumput Komunis mengamini bosnya. Buku Amir Sang Pembangun karya penulis Prancis, Jacques Leclerc menyinggung kecurigaan pada Hatta. Leclerc sudah mewawancarai para handai taulan Amir Sjarifuddin, dan hampir kesemuanya mengatakan tanpa jaminan atasannya tak mungkin Gatot Subroto berani mengambil tindakan tersebut. Karena Amir mantan PM, maka yang berani menjadi dewa atas nasibnya tentu seorang PM. Nah, Hatta kan ujungnya.

Belum lagi, muncul rumor soal adanya rapat kabinet yang dipimpin PM Hatta yang membahas nasib Amir cs. Rapat terjadi tatkala Jogja menjelang jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer II. Konon, rapat itu dihadiri oleh 12 orang menteri, dengan hasil 4 menteri setuju Amir dieksekusi, 4 menteri menolak hukuman mati dan 4 menteri lagi abstain. Soekarno yang kemudian tahu rapat itu, mem-veto dan meminta agar tak ada eksekusi mati untuk Amir.

Terus terang, saya termasuk yang meragukan keterlibatan Hatta. Memang betul ia antikomunis, tapi Hatta selalu bergerak dalam tataran yang legal. Ia pun pada dasarnya seorang demokrat. Masih ingat ketika ia memilih untuk mengembalikan kursi wapres, karena melihat gerak Soekarno yang makin otoriter. Kalau soal kebijakannya melakukan re-ra bukanlah sebab ia otoriter, namun lebih karena realitas keuangan negara dan upaya mewujudkan profesionalitas.

Yang lebih jelas lagi, sikap Hatta soal eksekusi pelaku Madiun Affairs, bisa kita temukan dalam biografi mantan PM Ali Sastroamijoyo. Kesaksian Ali, walau didesak-desak tentara, Hatta justru orang yang menentang dilakukannya hukum militer untuk Amir Cs. Ia ingin Amir cs diajukan ke pengadilan sipil. Karenanya sehari sebelum agresi, ia memerintahkan agar Amir Cs dibawa kembali ke Jogja. Namun apa lacur, esok harinya Jogja diserang Belanda dan Gatot Subroto - entah atas inisitif atau perintah siapa - membawa kembali Amir Cs ke Solo dan lantas menembaknya mati.

Soal rapat kabinet penentu nyawa Amir? Saya pikir bisalah untuk diabaikan. Kabinet Hatta I diisi oleh 16 sosok menteri. Saat terjadinya Agresi Militer II, hanya ada 10 menteri yang ada di Jogja, 6 menteri lain tengah berada di luar kota. Menteri Sjafrudin Prawiranegara di Bukitinggi, AA Maramis di New Delhi, Sukiman, IJ Kasimo, Susanto Tirtoprodjo dan Supeno tengah tur kerja keliling Jawan. Jadi jumlah menteri yang ada di Jogja tidak ada 12 menteri.

Kalau bukan Hatta, lantas siapa? Selaku komandan tertinggi tentara, Jenderal Sudirman pantas dipertimbangkan. Tapi dilihat dari riwayatnya, meski tegas, Sudirman bukanlah orang yang gampang membunuh. Ditambah lagi dengan catatan, pasukan yang pro PKI Madiun kebanyakan adalah laskar yang dibela Sudirman setengah mati saat mereka terlibat adu tembak dengan Divisi Siliwangi di Solo. Jadi Sudirman patut dikesampingkan.

Tertuduh lain bisa jadi AH Nasution. Dia adalah Komandan TNI Se-Jawa ketika itu. Nasution dikenal antikomunis dan memiliki keberanian untuk bertindak (Ia adalah dalang upaya kudeta 17 Oktober 1952). Ia juga punya catatan yang patut dipertimbangkan. Pada siang hari dimana agresi Belanda II dimulai, Nasution dalam perjalanan kembali ke Jogja dari Jatim sempat bertemu dengan Gatot Subroto di Solo. Gatot bahkan menyempatkan diri menemuinya sendiri di Stasiun.

Dalam biografinya Nasution menyebutkan Gatot kala itu melaporkan dengan kesal serangan Belanda ke arah Solo, sudah sampai persis di tapal batas Solo, yakni di Boyolali. Selain itu tak disebut adanya laporan lain, termasuk kelangsungan nasib para tahanan Madiun 1948. Mungkinkah Nasution (sengaja?) alpa bercerita tentang perintah eksekusi untuk Amir Sjarifuddin?

Hmmm…..itu tadi coret-coretan dari seorang amatir seperti saya. Yang pasti, sampai saat ini tentang siapa pemberi perintah eksekusi Amir Sjarifuddin memang masih belum terang. Apakah Gatot Subroto bertindak sendiri? Hatta kah? Jenderal Sudirman? atau justru Nasution….saya harap nanti ahli sejarah betulan bisa menjawabnya.

Oh ya…iseng-iseng saya coba men-trace siapa kapten polisi militer yang disebut-sebut sebagai komandan eksekusi atas Amir Sjarifuddin. Dan saya menemukan sebuah nama yang patut diduga…tapi biarlah nanti saya bagi di lain waktu.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post