Jubah Diponegoro

6 Aug 2008

Begitu mendengar nama Diponegoro apa yang Anda pikirkan? Mungkin yang paling pertama muncul di dalam kepala adalah sosok gagah pengendara kuda dengan busana gamis bersorban berwarna serba putih yang melambai-lambai.Atau kalau tidak demikian, gambarnya berupa profile close up sorang pria paruh baya nan bijak yang mengenakan sorban dan jubah putih, dengan keris terselip di sabuk perutnya.

Kalau itu yang Anda bayangkan, ya wajar saja. Ratusan atau mungkin ribuan gambar yang telah diproduksi untuk mencitrakan Pangeran Jawa itu, memang demikian adanya. Anda bisa bongkar sendiri buku sejarah SD sisa milik Anda atau mungkin milik anak Anda. Beberapa patung yang dibuat oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah juga merujuk ke deskripsi tersebut.

Tak cuma pada gambar dan patung. Layar bergerak maupun teater panggung juga kerap kali menampilkan sosok Diponegoro dalam balutan baju sorban putih-putih. Tengok saja kembali film Pahlawan Gua Selarong (Kalau di November 1828, Diponegoronya justru tidak muncul), dan hitung kapan Diponegoro tidak memakai baju putihnya.

Tentu kalangan awam dan praktisi teater atau film tak cuma asal comot mem-plot busana Diponegoro pasti putih. Toh, sebagian sejarahwan memang meyakini demikian. Suatu kali, seorang sejarawan top UI, yakni Ong Hok Ham ditanya oleh TEMPO, apa warna busana Diponegoro, dan dengan pasti ia menjawab putih-putih. Tapi benarkah demikian? Beberapa referensi ternyata tidak sepakat dengan hal itu.

Buku catatan perang milik Belanda yang dibuat tahun 1930-an, yang lalu dikutip van Dijk (1997) melukiskan busana yang dipakai Diponegoro. Kata catatan itu, “Pangeran Diponegoro berpakaian seperti pendeta dengan jaket (jubah/rompi ?) hitam dan turban warna hitam atau hijau.” van Dijk menggarisbawahi, masa itu seiring populernya Wahabi di Mekkah, kalangan ulama memang kerap menggunakan busana jubah dan turban.

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, G Moedjanto pun lebih percaya Diponegoro suka berpakaian hitam-hitam daripada penggambaran serba putih yang biasa diterima publik. Ia bersandar antara lain fakta Diponegoro adalah bangsawan yang dekat dengan rakyat, ia memilih tinggal di luar istana dan rutin mengadakan pengajian bersama. Busana serba hitam yang dipilih Diponegoro ditunjukan sebagai perlambang pilihan hidupnya untuk hidup sederhana.

Tapi hitam ataupun putih juga punya tandingan. Kalau boleh ditasbihkan, masih ada satu versi lagi. Coba kita tengok lukisan penangkapan Diponegoro, baik yang versi N Pieneman (Belanda) atau Raden Saleh. Dua-duanya tak menunjukkan preferensi jawaban yang mendukung dua asumsi di atas. Dalam lukisan legendaris itu, Diponegoro digambarkan menggunakan busana putih namun dengan balutan rompi dan turban yang berwarna seperti hijau tua.

Jadi apa gerangan baju favoritmu tuan Diponegoro?


TAGS Jubah Diponegoro Java oorlog


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post