Supriyadi Muncul

11 Aug 2008

Sekelumit berita di liputan6.com menarik perhatian saya. Sebuah warta yang menyebutkan Supriyadi, tokoh pemberontakan PETA masih hidup hingga kini. Sang tokoh, yang bersalin nama menjadi Andaryoko Wisnuprabu (89 tahun) hidup di Semarang, malahan membuat buku soal pengakuannya ini. Buku itu diberi judul Kesaksian Supriyadi yang penulisannya dibantu sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T Wardaya.

Wow….pikir saya. Antara mengejutkan dan tidak. Tidak karena sebelumnya memang banyak rumor yang membubung bahwa Supriyadi tak ikut tewas saat Jepang memberangus pimpinan PETA di Blitar, dan mengejutkan karena selain momentumnya terkesan tak jelas, juga penulis buku pengakuan Supriyadi tersebut sejarawan senior. Tentu bukan sekadar sensasi kalau Pak Baskara sampai berani melempar dadu intelektualitasnya untuk membuat buku tersebut.

Buku itu baru di-rilis kemarin di Semarang. Tepatnya saya juga belum menemukannya, mungkin dalam waktu dekat jika sempat mampir ke toko buku. Dalam buku itu, si Supriyadi ini - katanya (karena saya juga belum baca) - membeberkan mengapa sekian lama ia tak muncul, termasuk datang sebagai jenderal nomer satu TKR di awal revolusi. Dan juga mengapa ia terpaksa harus berganti identitas dan hidup di bawah pentas-pentas politik bangsa.

Jauh sebelum buku itu terbit, saya sudah banyak membaca kisah soal Supriyadi, termasuk pengakuan seseorang (mungkinkah ia Andaryoko yang kini mengaku secara terbuka?) bahwa dialah Supriyadi. Si pengaku - sebut saja tokoh anonim - ini menunjukkan dokumen-dokumen berupa kliping koran soal penunjukkannya sebagai panglima TKR dan foto bareng Soekarno (Mungkin foto saat Soekarno mengunjungi rumahnya di Blitar atau saat pendidikan PETA di Tangerang).

Tokoh anonim menyebut pemberontakan PETA sebetulnya tak pernah ada *). Yang ada, tanpa sebab dirinya dan dua rekannya tiba-tiba ditangkap Jepang dan akan dieksekusi. Si pengaku Supriyadi ini mengaku saat itu difitnah rekannya R Priyadi. Ketika masuk lapangan eksekusi, ketiganya berontak dan melarikan diri. Jepang yang ngamuk lantas melampiaskannya dengan menghajar tentara PETA di Blitar yang berujung pada bentrokan bersenjata.

Mengenai ketidakmunculannya si tokoh anonim enggan menjelaskan. Tapi yang jelas, selama masa ‘alienasi’ yang ia jalan, ia tak 100% mundur dari panggung sejarah. Si tokoh anonim mengaku ikut terlibat - meski berada di balik layar - dalam beberapa momentum sejarah penting, seperti dia lah yang menembak Brigjen Mallaby di Surabaya, serangan umum 1 Maret 1949 bahkan supersemar. Terasa agak nggombal ya…tapi itu lah pengakuan si tokoh anonim.

Ada lagi cerita lainnya soal lolosnya Supriyadi dari Blitar. Kali ini wacana justru dikembangkan oleh Departemen Sosial. Tahun 1978, Depsos mengeluarkan serial buku Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan. Pada bagian seri tentang Pemberontakan PETA Blitar dikutip beberapa kesaksian tentang masih hidupnya Supriyadi, setidaknya sampai setelah pecahnya pemberontakan PETA Blitar.

- Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada jaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan Blitar Februaru 1945 mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari.

- Ronomejo, Kamituwo Desa Ngliman, Nganjuk mengaku pernah ikut menyembunyikan Supriyadi di gua di sekitar Air Terjun Sedudo. Ia bahkan pernah mengantar Darmadi, ayahanda Supriyadi datang ke tempat persembunyian.

- Seorang Jepang mantan pelatih Supriyadi di Seinendojo, Tangerang, Nakajima pada Maret 1945 mengaku pernah didatangi Supriyadi saat bertugas di Salatiga. Ia sempat menyembunyikan Supriyadi beberapa hari sampai akhirnya Supriyadi pamit akan menuju Bayah, Banten Selatan (Tempat sembunyi yang sama dengan Tan Malaka).

- H Mukandar, tokoh masyarakat di Bayah, Banten mengaku pada bulan Juli 1945, dirinya pernah merawat seseorang yang terkena disentri. Pria itu mengaku bernama Supriyadi. Sayang jiwa si pria malang tak terselamatkan. Ia pun dikuburkan di Bayah. Ketika ditunjukkan foto para kadet Seinandojo PETA di Tangerang, dengan tepat Mukandar menunjuk pada foto Supriyadi.

Tak cuma Depsos, Dinas Sejarah TNI AD sendiri tak menutup pintu kemungkinan Supriyadi tak ikut wafat dalam pemberontakan Blitar. Majalah Vidya Yudha No 12/III/1971 memuat tulisan Mayor Soebardjo yang mengatakan bahwa ia mendengar dari Letnan Sasmita kalau Supriyadi tewas di Gunung Wilis menjelang datangnya kemerdekaan. Satu regu tentara Jepang menembaknya ketika ia tengah mereguk air minum.

Masih banyak lagi wacana-wacana soal sang pahlawan PETA Supriyadi. Saling silang kabar yang ada dimungkinkan karena memang hingga kini jasad Supriyadi tak pernah diketemukan. Pemerintah sendiri ‘terlanjur’ mensosialisasikan namanya sebagai sosok pahlawan. Tindakan Soekarno-Hatta yang mencantumkannya sebagai panglima tentara adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Namun, tak semua orang menganggap Supriyadi sebagai pahlawan. Beberapa mantan anak buahnya di PETA justru melihatnya sebagai sosok pengecut. Ketika para perwira PETA yang lain (Muradi, Supardjono, Suryo Ismangil, Halir Mangkudijaya, Soedarmo, Soenanto) harus bertanggungjawab dengan merelakan kepalanya untuk dipenggal di Ancol demi pasang depan menyelamatkan nyawa anak buahnya, (lihat artikel; Heroisme Tanda Kutip), Supriyadi malah lari.

Mungkin saya terlalu skeptis, namun apapun dalih yang diungkapkan Supriyadi (Andaryoko?) nanti - jika benar ia adalah Supriyadi - , saya pikir takkan bisa menghapus ‘kesalahannya’ membiarkan 63 tahun lamanya publik terperdaya epos kepahlawanannya atau mungkin secara pribadi lebih penting bagi Supriyadi sendiri, perasaan terluka para mantan anak buah yang merasa ditinggalkannya begitu saja….

*) Kalau di crosscheck dengan statemen Soekarno dalam buku Cindy Adams “Penyambung Lidah Rakyat” terasa bertolak belakang. Pada Halaman 290, Soekarno mengaku pernah bertemu Supriyadi - Apa jang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Soekarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Djepang maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa jang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Soekarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar. Orang tuaku tinggal di Blitar. Pada waktu aku berkundjung pada orang tuaku ke Blitar (waktu itu beriringan dengan meninggalnya ayahanda Bung Karno yang dimakamkan di Jakarta dan diboyongnya ibunya Idayu Nyoman Rai oleh P. Wardoyo kembali ke Blitar), beberapa orang perwira PETA datang kepadaku. Para perwira ini mempersoalkan maksud mereka hendak mengadakan pemberontakan. Kami baru mulai merencanakan. Mereka menyampaikan dengan kepercayaan penuh. Akan tetapi kami ingin mengetahui pendapat Bung Karno sendiri.


TAGS Supriyadi Blitar PETA Andaryoko


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post