Komandemen

9 Sep 2008

Mencari referensi tentang komandemen TKR yang pernah dibentuk ternyata tidak mudah. Bolak-balik memoar bekas tentara dan juga klik kanan kiri di internet, tidak juga ketemu. Di tengah referensi yang minim itu, saya coba merekonstruksi ihwal badan komandemen yang pernah ada. Semoga ada yang bisa meluruskan, bila saya salah.

Begitu TKR terbentuk, Markas Besar Tertinggi (MBT) TKR mulanya ingin membagi Sumatera dan Jawa dalam 4 divisi. Satu di Sumatera dan 3 di Jawa. Tapi rencana ini terpaksa ditunda. Euforia revolusi membuat orang berbondong-bondong menjadi tentara dan juga membuat segelintir orang berduyun-duyun memproklamirkan diri sebagai komandan. Kondisi ini membuat organisasi tentara sedemikian gemuk dan liar.

Sadar penertiban tergesa-gesa malah bisa memicu konflik senjata, Oerip Sumohardjo akhirnya memajukan Plan B-nya. Ia membuat satu lagi lembaga di atas divisi bernama komandemen. Ini semacam komando wilayah pertahanan (kowilhan). Komandemen tak memiliki pasukan secara langsung namun hanya berfungsi koordinasi divisi di wilayahnya. Untuk Jawa ada 3 komandemen, sementara Sumatera cukup 1 komandemen.

Beberapa nama ditunjuk sebagai Kepala komandemen. Mereka yakni Suhardjo Hardjowardoyo (Sumatera), Didi Kartasasmita (Jawa Barat), Sudibjo (Jawa Tengah) dan Moestopo (Jawa Timur). Satu komandemen membawahi beberapa divisi. Kepala komandemen diberi pangkat jenderal mayor. Adapun panglima divisi diberi pangkat kolonel. Total ada 16 Divisi yang tersebar dari Sumatera ke Jawa.

Sialnya, strategi ini di lapangan ternyata tak efektif. Persoalannya, banyak panglima divisi tak mau mengakui panglima komandemennya. Alasannya macam-macam.

Di Sumatera, meski secara de jure, Suhardjo mampu bertahan di posisinya hingga 1948, namun secara riil ia tak bergigi. Perintahnya kerap diabaikan bawahannya. Komandan TKR level divisi ke bawah saat itu lebih menyerupai warlords ketimbang tentara pemerintah. Mereka tidak disiplin, semau gue dan maah kerap jadi aktor penyelundupan. (PM Hatta yang gerah melihat ini, belakangan mengirimkan perwira Siliwangi untuk membersihkan TNI Sumatera).

Di Jawa Tengah, Sudibjo malah dianggap tidak ada. Penyebabnya mungkin karena latar belakang pendidikannya sebagai alumnus KMA Breda. Padahal komandan TKR di Jawa Tengah didominasi lulusan PETA. Sudibjo yang datang tanpa kharisma apalagi pasukan pun diabaikan. MBT TKR sempat mencoba memperbaiki keadaan ini, menggantinya dengan Jenderal Mayor Surahmat. Tapi tetap saja tak menolong.

Beberapa panglima divisi di Jawa Tengah, bukannya menghargai komandannya, mereka secara sepihak menaikkan pangkatnya menjadi jenderal mayor, setara dengan panglima komandemen. Di Divisi V Cepu ada Jenderal Mayor GPH Djatikusumo, di Divisi IX Yogyakarta ada Jenderal Mayor Sudarsono. Ini jelas simbol pembangkangan. Hanya Panglima Divisi V Banyumas Sudirman dan Divisi X Solo Sutarto yang tetap menyandang pangkat kolonel.

Di Jawa Timur lebih parah lagi. Mulanya, TKR memilih Moestopo, seorang eks daidancho di Surabaya. (Penunjukan ini kemungkinan terpaksa. Pasalnya secara fait accomply, Moestopo sudah memproklamirkan diri sebagai komandan TKR). Namun segera didapati, Moestopo tak mendapat dukungan bawahannya. Kemungkinan karena sikapnya yang labil. Ia pernah mengaku sebagai menteri pertahanan RI atau ratu adil. Perintahnya pun kadang tidak jelas.

Pembangkangan yang jelas dilakukan oleh Komandan BKR Surabaya, Sungkono. Menjelang pertempuran Surabaya, ia menolak mengikuti perintah Moestopo. Kepala Divisi TKR Sidoarjo, Jonosewojo malah lebih gila lagi. Ia menyuruh anakbuahnya menangkap Moestopo, bertepatan dengan pecahnya pertempuran Surabaya, akhir Oktober 1945. Dua hari lamanya Moestopo ada dalam sekapan anakbuahnya.

Moestopo akhirnya diganti. Orang nomer duanya, HR Muhamad menjadi Panglima Komandemen Jawa Timur. Namun penunjukannya ini praktis tak berfungsi. Lebih-lebih dari di Jawa Tengah, seluruh kepala divisi yang ada Jawa Timur malahan mengangkat diri menjadi jenderal mayor. Divisi VI Kediri ada Jenderal Mayor Sudiro, Divisi VII Sidoarjo ada Jenderal Mayor Jonosewojo, Divisi IX Malang ada Jenderal Mayor Imam Sujai.

Satu-satunya panglima komandemen yang relatif berfungsi hanya di Jawa Barat di bawah kendali Jenderal Mayor Didi Kartasasmita. Namun itu pun tak 100% jalan. Hanya 2 divisi yang dipegangnya, yakni Cirebon di bawah Kolonel Asikin dan Tasikmalaya di bawah Kolonel AH Nasution. Adapun Divisi Banten di bawah Kolonel Samaun, tak tersentuh. Keberhasilan Didi lebih karena senioritas bekas korps. Didi adalah senior Asikin dan Nasution di KNIL.

Begitulah, karena tidak efektif, tak berapa lama setelah terpilihnya Panglima Besar Sudirman kembali dilakukan reorganisasi. Sistem komandemen dihapus dan diganti ke rencana semula, yakni menjadikan Sumatera dan Jawa hanya 3 divisi. Perubahan itu nantinya sekaligus mengubur karir semua perwira senior eks KNIL senior yang ikut dalam TNI (Nasution dan TB Simatupang terbilang yunior).


TAGS komandemen TKR Didi Kartasasmita


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post