• 25

    Jul

    Prasasti Kesederhanaan

    Sekitar setengah abad lalu, kita tak perlu malu jadi orang Indonesia. Lembaran masa silam Indonesia sebelum masa Demokrasi Terpimpin menorehkan catatan yang membanggakan. Birokrasi dan politikus diisi oleh orang-orang besar dengan etika dan kehormatan yang tinggi. Perdana Menteri Wilopo dikenal sangat bersahaja. Bersama Menkeu Soemitro Djojohadikusumo, atas nama penghematan uang negara, ia melarang rapat kabinet menyediakan makanan ringan. Sebagai gantinya, setiap menteri yang ingin <I>ngemil</I> harus membawa dan membayar sendiri makanannya. Dalam kehidupan pribadi pun demikian. Istrinya kerap kali belanja ke pasar hanya mempergunakan becak. Bung Hatta paling fasih menerapkan kesederhanaan dalam dirinya. Sesaat setelah ia lengser, Sekretaris Kabinet Maria Ulfah menyodorkan u
  • 18

    Jul

    Pembersihan Jenderal

    Pembersihan jenderal. Sepintas, asosiasi kalimat ringkas itu menuntun pada pembersihan 6 jenderal yang dilakukan pasukan Letkol Kusman (nama kanak-kanak Untung Samsuri), 1 Oktober 1965 (Gestok)*. Tapi bukan itu yang saya maksudkan. Saya lebih tertarik bicara pada masa setelah krisis itu. Ya, pembersihan jenderal-jenderal yang dianggap berseberangan dengan Soeharto pasca 1965. Hal ini semula berangkat dari pertanyaan, berapa sih persisnya jenderal yang diberangus oleh Soeharto Cs seiring ter/di (?)perosokannya PKI ke jurang kehancuran. Karena berbagai referensi bilang banyak tapi angka persisnya tidak ada. Militer tentu punya arsipnya, tapi apa iya kita bisa mengintipnya? Jadilah saya coba mereka-reka berdasarkan beberapa bahan yang pernah saya baca. Totalnya, saya tetap tidak tahu, mungki
  • 15

    Jul

    Panglima Besar

    Gile bener. Sebulan ini saya bengep digebuki berbagai macam pekerjaan. Akibatnya, rutinitas mengasah otak untuk sekadar mengisi arsip blog ini terlewatkan. Padahal cukup banyak yang ingin saya tulis. Namun di tengah menit yang sempit itu, saya coba menyempatkan diri sekadar membaca blog-blog rekan lainnya. Dan saya menemukan yang menarik pada artikel milik rekan Carl Von. Rekan kita yang satu ini mencoba menjawab mengapa Sudirman bisa terpilih sebagai panglima besar TKR pada 12 November 1945. Ini menarik. Karena tulis Carl Von, Sudirman hanyalah seorang Shudanco (kepala peleton) PETA - versi lain yang lebih saya percayai Daidanco (komandan batalyon). Banyak perwira lain yang jauh lebih senior daripada Sudirman, termasuk perwira tua dari KNIL, Mayor Oerip Sumohardjo. Jawaban Carl Von ada
  • 15

    Jun

    Another Geisha (Sakiko Soekarno)

    Saya agak jenuh menulis seri Who Wants to be the First President, jadilah saya selingi menulis yang lain. Beberapa waktu lalu menanggapi pertanyaan Arya, saya membuat list yang berisi istri-istri Soekarno yang keberadaannya tercatat dalam dokumentasi publik. Ternyata apa yang saya tulis masih kurang. Ada satu lagi wanita cantik (saya belum lihat fotonya tapi tentulah begitu, bukankah taste Soekarno memang demikian?) yang belum saya sebut. Dialah Sakiko Tanase. Nishimura dalam bukunya The Concept of Power in Javanese Culture (1975), sempat menyinggung selintas soal Sakiko Kanase ini. Dikatakan, dia adalah seorang model fesyhen. Sakiko berkenalan dengan Soekarno di Kyoto, saat presidenIndonesia itu dalam kunjungan tak resmi ke Jepang di tahun 1958. Sakiko ‘dibawa’ oleh Grup Kino
  • 3

    Jun

    Who Wants to be the First President? (3)

    Amir Sjarifuddin. Dalam literatur, sebenarnya saya tidak mendapati pernyataan atau sikap Amir Sjarifuddin yang mengindikasikan dirinya ingin menjadi presiden negeri ini. Namun analisa rekan-rekannya, antara lain Ali Sastroamijoyo dalam biografinya, yakin betul pembelotan Amir ke kubu PKI dan Musso di pertengahan tahun 1948 lantaran ambisinya menjadi pucuk pimpinan Indonesia. Sebuah ambisi yang naasnya harus ditebus dengan jiwanya sendiri. Padahal tanpa ambisi pribadi pun, sebetulnya Amir Sjarifuddin punya kapasitas untuk menjadi presiden. Syahdan - sebagaimana dituturkan Soemarsono (tokoh Madiun Affairs) dalam Negara Madiun - para pemuda progresif di Jakarta begitu mendengar berita kekalahan Jepang atas Sekutu, segera memilah-milah sosok untuk mereka usung sebagai pemimpin kemerdekaan. So
  • 30

    May

    Who Wants to be the First President? (2)

    Abikoesno Tjokrosoejoso. Abikoesno merintis karir politiknya di Syarikat Islam (SI). Bukan kebetulan dia ada di sana. Ia masih memiliki hubungan saudara dengan guru semua aktivis yang juga pegiat SI, Oemar Said Tjokroaminoto. Pada 1918, saat ia menjadi Sekretaris SI Surabaya, Abikoesno ada di barisan depan orang-orang yang menentang Marthodarsono, wartawan Solo yang dinilai menghujat nabi. Lepas dari era Tjokroaninoto, Abikoesno langsung mencapai pucuk pimpinan SI - saat itu sudah berubah nama menjadi PSII. Segera, ia membuktikan diri sebagai pimpinan yang tegas berprinsip. Tokoh senior PSII, Agus Salim, ia singkirkan karena dianggap kooperatif dengan kolonial. Kemudian, pengikutnya sendiri Kartosoewirjo juga ia tendang lantaran terlalu kaku menerapkan prinsip hijrah dalam menegakkan syar
  • 22

    May

    Trimurti & Pengibar Merah Putih

    Berpulangnya SK Trimurti memaksa saya untuk menyempilkan posting ini di antara seri Who Wants to be the First President? yang tengah saya buat. Bukan untuk alasan sumbangsihnya untuk bangsa ini - yang saya percaya pastilah berkali lipat dibandingkan kebanyakan dari kita - tapi karena selembar foto. Ya, kepulangannya mengingatkan saya pada foto pengibaran merah putih yang pertama kalinya di zaman Indonesia Merdeka. Foto yang diambil oleh Soemarto Frans Mendoer, sekitar 63 tahun lalu itu menampilkan adegan penaikan bendera merah putih. Aslinya, momen itu dihadiri oleh ratusan orang, namun mungkin karena keterbatasan ruang dan pertimbangan angle, foto Mendoer hanya menampilkan 6 figur utama. Dua proklamator, dua perempuan yang membelakangi kamera dan dua pengerek bendera. Nah, yang menjad
  • 21

    May

    Who Wants to be the First President? (1)

    Masa pergerakan nasional memakzulkan begitu banyak nama pemimpin pergerakan. Sederet tokoh bergantian memberikan warna ke arah mana kebangsaan nusantara akan bermuara. Dari perspektif yang berbeda, disadari atau tidak, masa-masa itu sesungguhnya masa persemaian para calon pemimpin bangsa. Siapa yang akan menjadi pemimpin utama di garis depan bila kemerdekaan yang dicita-citakan bener-benar bukan impian. Sejarah memang memberikan jawaban pertanyaan di atas. Bahwa Soekarno didampingi Hatta lah yang dicari para pemuda progresif untuk memproklamirkan Indonesia dan akhirnya menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Tapi saya tak akan bicara soal itu, saya lebih tertarik pada prosesnya. Ada sederet nama yang menurut saya terlibat atau pernah terlibat dalam ‘perlombaan’ tersebut,
  • 15

    May

    Heroisme Tanda Kutip

    Epos perjuangan selalu saja memunculkan banyak episode yang kedengarannya heroik. Palagan kegagahan Gusti Ngurah Rai bersama 107 anak buahnya di Bali, pengorbanan Yos Sudarso di Laut Aru, ke Wolter Monginsidi menatap regu tembak Belanda, kenekatan Mohammad Toha membumihanguskan arsenal NICA di Bandung, dan banyak kejadian lainnya. Tapi apakah sejarah sudah mencatatnya dengan benar? Membolak-balik beberapa tulisan dan statemen, rasanya peristiwa-peristiwa nan heroik itu, beberapa, masih memunculkan celah-celah untuk dikritisi. Bukan untuk maksud menggugat, namun sekadar memberikan alternatif, bahwa ada perspektif berbeda dari para pelaku sejarah terhadap insiden-insiden tersebut, yang berbeda dari cerita mainstream. Mari melihat beberapa diantaranya. PERTEMPURAN LAUT ARU. Sejak jaman SD,
  • 5

    May

    Adu Punggung Politik

    Bahwa politik itu tak mengenal mata, itu bukan sekadar stigma. Bahkan sejak era nenek moyang menciptakan drama Ramayana, sudah terpikirkan membuat lakon Gunawan Wibisana yang harus berhadapan dengan kakaknya sendiri, Rahwana. Itulah sisi tajam politik, kadang garis politik harus melintang vertikal di atas garis hubungan darah. Dan sang zaman mencatatnya hingga masa kini. Di era pergerakan prakemerdekaan tahun 1920-an, banyak orang terkesima dengan kecerdasan H Agus Salim. Belanda mencatatnya sebagai salah satu pribumi paling brilian saat itu. Tak sekadar pintar, ia juga pesohor agama dan giat di Syarikat Islam (walau akhirnya dipecat). Tapi adik kandung Agus Salim berbeda. Chalid Salim justru memilih komunis sebagai jalan hidupnya. Saat petaka pemberontakan PKI 1926, wartawan Pewarta Deli

Author

Follow Me

Search

Recent Post